Buku Disalurkan DAK Tidak Sesuai Dengan Kurikulum
Bangkapos.com - Selasa, 1 Februari 2011 11:10 WIB
NULL
NULL
JAKARTA, KOMPAS.com —Sejumlah siswa dan guru di Kabupaten Tegal baru sadar bahwa buku yang disalurkan melalui dana alokasi khusus diduga mengandung unsur politik.
Bahkan penyaluran buku-buku tentang sosok, pemikiran, dan kiprah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ditanggapi beragam oleh kepala sekolah, guru, dan murid.
Eko Fajar Setiawan, siswa kelas IX SMP Negeri 1 Slawi, mengatakan, buku-buku itu lebih menunjukkan keunggulan-keunggulan Yudhoyono, misalnya dalam memberantas kemiskinan. Materi buku, menurut dia, mengandung unsur politik sehingga kurang menunjang pelajaran.
Sementara itu Yusnita Sari, guru mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di SMP Al Mi’raj, Kecamatan Talang, Kabupaten Tegal, mengatakan, buku-buku seri Lebih Dekat dengan SBY sulit dikaitkan dengan mata pelajaran di sekolah karena tidak sesuai dengan kurikulum.
Ahmad Mustafa (15), siswa kelas IX SMP Al Mi’raj, mengatakan, ia sudah membaca sebagian materi buku-buku Yudhoyono. Namun, Ahmad menilai buku itu lebih berisi kisah dan cerita keseharian Yudhoyono.
"Bagi saya lebih penting membaca buku untuk persiapan menghadapi ujian nasional," ujarnya.
Kepala SMP Al Mi’raj Tegal, Abdullah Mufid, mengatakan, pihaknya lebih membutuhkan bantuan komputer ketimbang buku untuk perpustakaan karena empat komputer yang ada dipakai bergiliran untuk 115 siswa kelas VII dan VIII.
Sebelumnya diberitakan, sebanyak 10 buku seri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang beredar di sejumlah SMP di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, tidak akan ditarik. Sebab, tidak ada prosedur dan mekanisme yang dilanggar dalam pengadaan buku-buku tersebut.
"Buku itu bukan buku terlarang. Apa sekarang juga masih zaman tarik-menarik sebuah buku? Kalau siswa boleh membaca buku tentang presiden-presiden negara lain, masa mereka tak boleh membaca buku tentang presidennya sendiri?" kata Mendiknas Mohammad Nuh, dalam siaran pers, seusai diterima Presiden Yudhoyono di Kantor Presiden, Kompleks Istana, Jakarta, Senin (31/1/2011) kemarin. (kompas.com/HAR/WIE)
Hit 817