Pemda Harus Beri Perhatian dan Insentif Khusus Buat Petani Lada
Bangkapos.com - Jumat, 4 Februari 2011 19:18 WIB
Share |
JAKARTA, BANGKA POS.com -- Gusmardi Bustami, S.H, Ketua International Pepper Community (IPC), atau organisasi antar pemerintah negara-negara penghasil lada yang juga Direktur Jenderal Kerjasama Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan mendorong pemerintah daerah untuk lebih memberikan perhatian khusus dan insentif kepada para petani lada di daerahnya masing-masing.

Gusmardi menjelaskan bahwa di tengah makin menurunnya produksi lada di Indonesia, pemda yang menjadi lumbung lada nasional, seperti Bangka dan Lampung harus mendukung para petani untuk tetap bertahan memproduksi lada.

“Pemda seperti Bangka, Lampung sudah terkenal ladanya dari sana, petaninya diberikan perhatian khusus sebagai penghasil lada di Indonesia. Berilah bantuan kepada petani-petani  untuk mendorong mereka untuk mempertahankan perkebunan ladanya, dan kemudian dijaga kualitasnya,” ujar Gusmardi, di Jakarta, Jumat (4/2/2011).

Sebagaimana dijelaskannya, produksi lada pada tahun 2010 lalu sekitar 33 ribu metrik ton. Angka produksi lada ini akan lebih rendah  lagi diperkirakan pada tahun ini, yakni hanya sekitar 28.300 metrik ton.

Apalagi, seperti di daerah Bangka, yang terdapat pilihan kerja lain sebagai penambang di pertambangan timah. Dirinya khawatir dengan kurangnya perhatian pemda, migrasi para petani lada menjadi penambang pun akan terjadi.

Dan kejayaan produksi lada Bangka pun akan menjadi sebuah sejarah. Insentif pun, menurutnya perlu diberikan pemda setempat, untuk memacu para petani untuk memproduksi lada dengan lebih banyak dan kualitasnya pun tidak kalah dengan luar negeri.

Insentif, menurutnya, perlu diberikan pemda untuk mendorong para petai lada tetap memproduksi lada dengan jumlah yang lebih besar dan berkualitas tinggi.

“Saya kira itu yang perlu diberikan oleh pemerintah daerah sendiri. Perhatian khusus itu berupa insentif perlu diberikan,” ucapnya.

Terkait bentuk insentif yang akan diberikan, pihaknya siap diajak duduk bersama memikirkan hal itu.

“Apa bentuk insentifnya, perlu kita pikirkan bersama,” ujarnya.

Dia menambahkan, di tengah harga lada yang fluktuatif, tentu ini juga akan memicu petani pindah menjadi penambang Timah, karena lebih menarik dan mengiurkan. Pemda juga diharapkan punya jurus jitu untuk membangkitkan semangat dan kesadaran para petani untuk tetap bekerja dan memproduksi di kebun ladanya masing-masing.

Dari pihak IPC sendiri berusaha untuk mengontrol harga lada agar tidak jatuh di pasar internasional. Karena diakuinya, harga lada sangat dipengaruhi oleh harga dunia. Jalan yang bisa dilakukan tidak lain adalah mengontrol stok lada, baik di tingkat nasional maupun di pasar internasional.

Menjaga stok lada tidak membanjir dan saling tahu stok produksi dan jumlah ekspor di tiap negara penghasil lada juga akan ditempuh, agar harga lada tetap stabil. Di tingkat IPC, langkah menjaga stok pasar dunia akan dilakukan dan dikordinasikan bagi masing-masing negara yang tergolong di dalamnya.

Di tingkat nasional sendiri, pemerintah Indonesia dan pemda dapat menggunakan sistem jaga stok dengan resi gudang.

“Dengan ini bisa membuat petani lada kita gunakan sistem resi gudang. Bisa menjaga stok sehingga saat harga anjlok stok lada kita disimpan di situ, dan saat harga lada dunia baik, kita atur stok penjualannya,” jelasnya.

Untuk petani sendiri, IPC telah menyediakan pedoman harga lada internasional dan nasional lewat pesan singkat (Short Message Service/SMS). Langkah ini bertujuan untuk membantu para petani lada semakin baik mengelola produksi ladanya untuk dijual. Hal ini juga akan membantu para petani untuk menghindari permainan para “cukong” lada yang membeli dengan harga di bawah harga pasar saat itu.

“Saat petani ingin jual, dan mendesak butuh uang, meskipun ada yang mau membeli, misalnya Rp10 ribu, sedangkan harga sesungguhnya yang didapat di atas itu, dia kan bisa menjaga stok, dan tidak menjual. Dengan pedoman harga ini, petani bisa tahu di harga berapa produksinya akan dilepas,” jelasnya.

Hal senada juga disampaikan oleh  Direktur Kerjasama APEC dan Organisasi Internasional Lainnya Direktorat Kerjasama Perdagangan Internasional Kemendag, Edward. Dengan penyebarluasan harga lada lewat SMS, petani akan terbantu mengetahui harga lada persisnya tiap minggunya.

“Supaya mereka tahu persis berapa harganya, dan mereka tahu posisi harga berapa yang mereka mau jual. Kalai ada yang nawar Rp10 ribu, kalau dia tahu harga pasarnya sekian, dia kan jadi tahu,” ucapnya.

Langkah maju ini, sambung Edwar akan semakin membuat petani lada Indonesia menjadi percaya diri dan smart. “PD menjadi petani lada. Dan semakin smart dia menjadi petani lada,” tegasnya.

Untuk diketahui, IPC adalah kumpulan negara-negara penghasil lada di dunia, yaitu Brasil, India, Indonesia, Malaysia, Sri Lanka dan Vietnam.  Adapun tujuan utama IPC dibentuk, untuk mempromosikan, mengkordinir dan menyelaraskan program dan kegiatan yang berkaitan dengan industri lada. (tribunnews.com)


Penulis : rusaidah
Editor : rusaidah
Sumber : Tribunnews