Etalase
Pohon Lokal Pulihkan Lahan Bekas Tambang
ist
DR Eddy Nurtjahya
UPAYA mengembalikan lahan bekas tambang di Bangka Belitung kembali menjadi hutan bakal tidak butuh waktu lama lagi. Dosen Program Studi Biologi Universitas Bangka Belitung (UBB), DR Drs Eddy Nurtjahya MSc, berhasil menemukan beberapa jenis pohon lokal yang bisa mempercepat pemulihan lahan seperti sedia kala. Bahkan loncatannya sekurang-kurangnya 11-38 tahun bila dibanding suksesi alami.
Keberhasilan tersebut selain mempercepat pengembalian lahan, dana dan tenaga profesional yang digunakan akan lebih terbatas.
Hasil penelitian Eddy ini dituangkan dalam disertasi dengan judul “Revegetasi Lahan Pasca Tambang Timah dengan Beragam Jenis Pohon Lokal di Pulau Bangka.” Disertasi ini berhasil ia pertahankan dalam Ujian Terbuka Studi Doktor ke 111 Tahun 2008 Institut Pertanian Bogor, di ruang sidang Rektor Gedung Rektorat Andi Hakim Nasoetion, Kampus IPB Darmaga, Bogor, Senin (4/8) lalu.
Awalnya, Eddy meneliti 10 jenis pohon yang mudah ditemukan di Pulau Bangka. Dari seluruh tanaman itu, empat jenis dijadikan satu paket dan ternyata sangat besar pengaruhnya bagi pengembalian lahan.
Keempat jenis pohon lokal itu adalah syzygium grande (ubak), calophyllum inophyllum (penaga atau nyamplung), ficus superba (ara atau rengkat), dan hibiscus tiliaceus (waru laut atau baru). Penelitian dilakukan dengan jarak tanam rapat 2m x 2m atau 1m x 1m, pada ukuran pot 30cm x 30cm x 30cm di media tanam tanah mineral bercampur kompos kotoran sapi serta model tanam permata atau zig-zag sangat cepat menutup tanah bekas tambang.
“Dari luas tanah 100 meter persegi, dalam setahun 20 persen sudah tertutupi. Jadi saya perkirakan beberapa tahun kemudian sudah tertutupi semua. Beda dengan mengandalkan suksesi alami yang berjalan sangat lambat,” kata suami Sulistyawati yang merampungkan S2 di University of Stirling UK kepada harian ini, Kamis (7/8).
Dalam penelitiannya, lanjut Eddy, ia menambahkan sabut kelapa sebagai mulsa dan legum penutup tanah LCC (calopogonium mucunoides) serta tanah bagian atas.
“Saya taburkan juga rhodomyrtus tomentosa (keramunting) dan baeckea frutescens (sapu-sapu) sebagai sumber biji-bijian di bawah keempat pohon itu. Hasilnya luar biasa cepat,” jelasnya.
Ayah Dita Nurtjahya (16), remaja yang mewakili Indonesia ke Durban Afrika Selatan dalam Seminar Serangga Internasional dan Kila Nurtjahya (11) ini menyimpulkan, penggunaan tanaman-tanaman tersebut revegetasi ini mampu melompat dari suksesi alami sekurang-kurangnya 11-38 tahun. Cara semacam ini akan sangat berguna untuk mempercepat mengembalikan hutan akibat aktivitas tambang di Bangka Belitung seperti sedia kala.
“Masyarakat umum yang mau mencoba saya yakin bisa karena paket yang saya tawarkan sangat mudah. Pohon-pohonnya dan bahan lainnya banyak di Bangka,” katanya.
Namun, tambah Eddy, penelitiannya bertujuan untuk mengembalikan hutan seperti sedia kala. “Sedangkan untuk tujuan lain tentunya ada cara lain yang lebih efektif, misalnya untuk tempat wisata mungkin cukup dibikin kolong saja. Begitupun dengan tujuan lainnya,” jelasnya. (slm)
Hasil penelitian Eddy ini dituangkan dalam disertasi dengan judul “Revegetasi Lahan Pasca Tambang Timah dengan Beragam Jenis Pohon Lokal di Pulau Bangka.” Disertasi ini berhasil ia pertahankan dalam Ujian Terbuka Studi Doktor ke 111 Tahun 2008 Institut Pertanian Bogor, di ruang sidang Rektor Gedung Rektorat Andi Hakim Nasoetion, Kampus IPB Darmaga, Bogor, Senin (4/8) lalu.
Awalnya, Eddy meneliti 10 jenis pohon yang mudah ditemukan di Pulau Bangka. Dari seluruh tanaman itu, empat jenis dijadikan satu paket dan ternyata sangat besar pengaruhnya bagi pengembalian lahan.
Keempat jenis pohon lokal itu adalah syzygium grande (ubak), calophyllum inophyllum (penaga atau nyamplung), ficus superba (ara atau rengkat), dan hibiscus tiliaceus (waru laut atau baru). Penelitian dilakukan dengan jarak tanam rapat 2m x 2m atau 1m x 1m, pada ukuran pot 30cm x 30cm x 30cm di media tanam tanah mineral bercampur kompos kotoran sapi serta model tanam permata atau zig-zag sangat cepat menutup tanah bekas tambang.
“Dari luas tanah 100 meter persegi, dalam setahun 20 persen sudah tertutupi. Jadi saya perkirakan beberapa tahun kemudian sudah tertutupi semua. Beda dengan mengandalkan suksesi alami yang berjalan sangat lambat,” kata suami Sulistyawati yang merampungkan S2 di University of Stirling UK kepada harian ini, Kamis (7/8).
Dalam penelitiannya, lanjut Eddy, ia menambahkan sabut kelapa sebagai mulsa dan legum penutup tanah LCC (calopogonium mucunoides) serta tanah bagian atas.
“Saya taburkan juga rhodomyrtus tomentosa (keramunting) dan baeckea frutescens (sapu-sapu) sebagai sumber biji-bijian di bawah keempat pohon itu. Hasilnya luar biasa cepat,” jelasnya.
Ayah Dita Nurtjahya (16), remaja yang mewakili Indonesia ke Durban Afrika Selatan dalam Seminar Serangga Internasional dan Kila Nurtjahya (11) ini menyimpulkan, penggunaan tanaman-tanaman tersebut revegetasi ini mampu melompat dari suksesi alami sekurang-kurangnya 11-38 tahun. Cara semacam ini akan sangat berguna untuk mempercepat mengembalikan hutan akibat aktivitas tambang di Bangka Belitung seperti sedia kala.
“Masyarakat umum yang mau mencoba saya yakin bisa karena paket yang saya tawarkan sangat mudah. Pohon-pohonnya dan bahan lainnya banyak di Bangka,” katanya.
Namun, tambah Eddy, penelitiannya bertujuan untuk mengembalikan hutan seperti sedia kala. “Sedangkan untuk tujuan lain tentunya ada cara lain yang lebih efektif, misalnya untuk tempat wisata mungkin cukup dibikin kolong saja. Begitupun dengan tujuan lainnya,” jelasnya. (slm)
dibaca: 4037x
0 Komentar untuk "Pohon Lokal Pulihkan Lahan Bekas Tambang"
Komentar Anda:


