Etalase
Tutup Tahun, Nelayan Paceklik
Pos Belitung/Edhie
KEPITING -- Darsono, pengumpul kepiting menunjukkan kepiting-kepiting payau yang siap dipasarkan, Sabtu (20/12).
Saat-saat seperti ini merupakan masa paceklik bagi nelayan. Masa-masa menjelang tutup tahun 2008 ini, diakui sejumlah nelayan, sebagai masa sulit karena penghasilan menurun karena tidak ada penghasilan selama musim barat ini.
“Angin masih terlalu kencang untuk melaut. Jadi, kita sebagai nelayan hanya mencari hasil laut yang ada di dekat-dekat saja,” kata Hasyim, nelayan yang menetap di Desa penggantungan kepada Grup Bangka Pos, Minggu (21/12).
Kondisi cuaca saat ini, diakuinya, kurang bersahabat. Rata-rata nelayan yang hanya menggunakan kapal motor kecil takut melaut karena cuaca di laut sangat riskan bagi kapal kecil.
“Kita stop dulu melaut. Lagian, ikannya juga kurang,” ujar Hasyim.
Musim angin barat ini, menurutnya, biasanya akan berakhir pada bulan Maret hingga April.
“Bulan April mungkin angin sudah tenang. Dan kita bisa beraktivitas kembali seperti semula,” ujarnya.
Namun ada juga nelayan yang tidak ingin berdiam diri saja. Seperti Rahman, nelayan Tanjungpandan ini memilih mencari udang dan kepiting payau di kawasan pesisir, yang relatif tak terpengaruh dengan kondisi angin kencang.
“Sekarang lagi musim udang dengan ukuran sedang,” kata Rahman.
Hasil tangkapan udang pun lumayan. Harga udang saat ini bervariasi dan tergolong lumayan. Satu kilogram udang ukuran sedang dijual Rp 15.000-Rp 20.000/kg. Udang ukuran besar dijual Rp 30.000-Rp 50.000/kg.
“Bulan Desember ini rata-rata pendapatan bersih saya menjual udang sebesar Rp 150.000/hari,” jelas Rahman.
Sementara itu, Darsono, seorang pengumpul kepiting payau (keramangok--red) mengatakan saat musim barat ini, biasanya nelayan memilih mencari udang atau kepiting.
Namun sejak krisis keuangan global dan timah menurun, volume dan kualitas ekspor kepiting menurun.
“Dulu sebelum timah turun, saya mampu mengirim barang keluar satu hingga dua kilogram setiap harinya. Namun, sekarang hanya mengirim barang sebanyak 50 kg/hari atau dengan kata lain pengiriman barang merosot tajam,” kata Darsono.
Jumlah tangkapan kepiting, semakin merosot. Darsono mengatakan perkembangbiakan kepiting semakin sedikit menjadi salah satu faktor berkurangnya hasil tangkapan.
Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) memprediksi tinggi gelombang laut berkisar dua sampai tiga meter berpeluang terjadi di Laut Timor, Laut Arafuru, Selat Karimata, perairan Bangka Belitung, perairan Sangihe Talaud, Laut Halmahera dan perairan utara Papua bagian barat. Sementara tinggi gelombang di perairan barat Lampung dalam sepekan ini berkisar 1,25- 2,0 meter.
BMG menyebutkan, gelombang tinggi di perairan barat Lampung itu tidak berbahaya bagi tongkang dan feri, kecuali bagi perahu nelayan.
Gelombang setinggi itu juga berpeluang terjadi di perairan Timur dan Utara Aceh, perairan Barat Sumatera Barat, perairan Selatan Bali hingga NTT, Laut Sawu, Laut Jawa, Laut Bali, Laut Flores, Selat Makassar bagian selatan, perairan selatan Sulawesi, Laut Banda, Laut Sulawesi, Laut Maluku, Laut Seram, perairan Kepulauan Aru dan perairan utara Papua bagian timur.
Sementara di Laut Natuna, tinggi gelombang berkisar tiga sampai empat meter yang berbahaya bagi perahu nelayan, tongkang dan kapal feri.
BMG juga mengingatkan bahaya gelombang tinggi di sejumlah wilayah perairan Indonesia sampai Selasa (23/12). Laporan BMG di Bandarlampung, Sabtu (20/12), gelombang tinggi berkisar 3,0-4,0 meter berpeluang terjadi di perairan Riau, Laut Natuna, perairan Sambas, perairan Selatan Rote, Laut Timor, perairan Kai dan Tanimbar dan Laut Arafuru. Gelombang laut itu berbahaya bagi semua jenis kapal. Gelombang laut dengan tinggi berkisar 4,0-5,0 meter yang berbahaya bagi semua jenis kapal, berpeluang terjadi di Laut China Selatan, Laut Sulu dan Laut Filipina. (i6/ant)
“Angin masih terlalu kencang untuk melaut. Jadi, kita sebagai nelayan hanya mencari hasil laut yang ada di dekat-dekat saja,” kata Hasyim, nelayan yang menetap di Desa penggantungan kepada Grup Bangka Pos, Minggu (21/12).
Kondisi cuaca saat ini, diakuinya, kurang bersahabat. Rata-rata nelayan yang hanya menggunakan kapal motor kecil takut melaut karena cuaca di laut sangat riskan bagi kapal kecil.
“Kita stop dulu melaut. Lagian, ikannya juga kurang,” ujar Hasyim.
Musim angin barat ini, menurutnya, biasanya akan berakhir pada bulan Maret hingga April.
“Bulan April mungkin angin sudah tenang. Dan kita bisa beraktivitas kembali seperti semula,” ujarnya.
Namun ada juga nelayan yang tidak ingin berdiam diri saja. Seperti Rahman, nelayan Tanjungpandan ini memilih mencari udang dan kepiting payau di kawasan pesisir, yang relatif tak terpengaruh dengan kondisi angin kencang.
“Sekarang lagi musim udang dengan ukuran sedang,” kata Rahman.
Hasil tangkapan udang pun lumayan. Harga udang saat ini bervariasi dan tergolong lumayan. Satu kilogram udang ukuran sedang dijual Rp 15.000-Rp 20.000/kg. Udang ukuran besar dijual Rp 30.000-Rp 50.000/kg.
“Bulan Desember ini rata-rata pendapatan bersih saya menjual udang sebesar Rp 150.000/hari,” jelas Rahman.
Sementara itu, Darsono, seorang pengumpul kepiting payau (keramangok--red) mengatakan saat musim barat ini, biasanya nelayan memilih mencari udang atau kepiting.
Namun sejak krisis keuangan global dan timah menurun, volume dan kualitas ekspor kepiting menurun.
“Dulu sebelum timah turun, saya mampu mengirim barang keluar satu hingga dua kilogram setiap harinya. Namun, sekarang hanya mengirim barang sebanyak 50 kg/hari atau dengan kata lain pengiriman barang merosot tajam,” kata Darsono.
Jumlah tangkapan kepiting, semakin merosot. Darsono mengatakan perkembangbiakan kepiting semakin sedikit menjadi salah satu faktor berkurangnya hasil tangkapan.
Gelombang 2 Meter
Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) memprediksi tinggi gelombang laut berkisar dua sampai tiga meter berpeluang terjadi di Laut Timor, Laut Arafuru, Selat Karimata, perairan Bangka Belitung, perairan Sangihe Talaud, Laut Halmahera dan perairan utara Papua bagian barat. Sementara tinggi gelombang di perairan barat Lampung dalam sepekan ini berkisar 1,25- 2,0 meter.
BMG menyebutkan, gelombang tinggi di perairan barat Lampung itu tidak berbahaya bagi tongkang dan feri, kecuali bagi perahu nelayan.
Gelombang setinggi itu juga berpeluang terjadi di perairan Timur dan Utara Aceh, perairan Barat Sumatera Barat, perairan Selatan Bali hingga NTT, Laut Sawu, Laut Jawa, Laut Bali, Laut Flores, Selat Makassar bagian selatan, perairan selatan Sulawesi, Laut Banda, Laut Sulawesi, Laut Maluku, Laut Seram, perairan Kepulauan Aru dan perairan utara Papua bagian timur.
Sementara di Laut Natuna, tinggi gelombang berkisar tiga sampai empat meter yang berbahaya bagi perahu nelayan, tongkang dan kapal feri.
BMG juga mengingatkan bahaya gelombang tinggi di sejumlah wilayah perairan Indonesia sampai Selasa (23/12). Laporan BMG di Bandarlampung, Sabtu (20/12), gelombang tinggi berkisar 3,0-4,0 meter berpeluang terjadi di perairan Riau, Laut Natuna, perairan Sambas, perairan Selatan Rote, Laut Timor, perairan Kai dan Tanimbar dan Laut Arafuru. Gelombang laut itu berbahaya bagi semua jenis kapal. Gelombang laut dengan tinggi berkisar 4,0-5,0 meter yang berbahaya bagi semua jenis kapal, berpeluang terjadi di Laut China Selatan, Laut Sulu dan Laut Filipina. (i6/ant)
dibaca: 4948x
0 Komentar untuk "Tutup Tahun, Nelayan Paceklik"
Komentar Anda:


