Etalase
Pemutaran Film Sang Pemimpi
Macet Satu Kilometer
- Penonton Tembus 1,2 Juta
TANJUNGPANDAN, POS BELITUNG - Sama halnya dengan di Belitung Timur, pemutaran film Sang Pemimpi di Tanjungpandan juga disambut hangat masyarakat Kabupaten Belitung. Antrean kendaraan dan warga yang hendak menyaksikan pemutaran film Sang Pemimpi melalui layar tancap dan peluncuran Visit Babel Archi 2010 di Pantai Tanjungpendam, Senin (28/12) malam, bahkan sampai terjebak kemacetan mulai sekitar satu kilometer menjelang lokasi.
Kemacetan menuju lokasi juga sempat dialami sebagian anggota rombongan Miles Films dan Mizan Production beserta para pemain film Sang Pemimpi. Mira Lesmana dan Mathias Muchus misalnya, harus dipandu untuk menyibak kerumunan penonton yang berjubel di sekitar panggung terbuka Pantai Tanjungpendam.
Di atas panggung, Avesiana Soebli dari Mizan Production menyatakan penonton film Sang Pemimpi selama 10 hari terakhir sudah tembus 1,2 juta orang. Pengumuman itupun disambut hangat para penonton yang bangga film berlatar belakang Belitung itu mampu menarik perhatian masyarakat. Avesiana dan Mira pun bergantian memperkenalkan para pendukung film Sang Pemimpi, termasuk penulis tetralogi Sang Pemimpi, Andrea Hirata, yang merupakan putra kelahiran Belitung.
Sebelumnya Gubernur Babel Eko Maulana Ali dalam sambutanya juga sempat menyatakan penghargaannya terhadap Andrea Hirata yang karya-karyanya telah andil melambungkan nama daerah.
Sambutan ribuan warga yang berjubel di Pantai Tanjungpendam semakin membuat hangat suasana hingga akhirnya film Sang Pemimpi mulai diputar.
Sebelumnya, pada saat acara Meet & Greet pemain Sang Pemimpi dan kru yang digelar Telkomsel di Biliton Hotel & City Club, Senin (28/12), sutradara Riri Reza menegaskan komitmen untuk mengangkat Edensor, salah satu novel dari tetralogi Laskar Pelangi, ke layar lebar setelah sukses Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi.
Penggarapan syuting film Edensor rencananya akan mengambil lokasi lebih banyak di Eropa. Hanya saja, persiapan pembuatan Endensor dipastikan memakan waktu lama mengingat sebagian syutingnya bakal dilakukan di Eropa.
“Film Edensor akan banyak syuting di Eropa, tetapi sebagian tetap akan syuting di Belitung,” kata sutradara film Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi itu saat menjawab pertanyaan dari salah satu undangan dalam acara ini.
Acara tersebut antara lain juga dihadiri Mira Lesmana dari Miles Production, Avesina Soebli dari Mizan Production, co produser Putut Wijanarko, penulis novel Sang Pemimpi Andrea Hirata, Vikri Setiawan (Ikal), Aswir (Jimbron), Sandi Pranada (Arai kecil), Zulfani (Ikal kecil), Mathias Muchus (ayah Ikal), Jay Wijayanto (Bang Zaitun), Landung Sumatupang (Pak Mustar), Maudi Ayunda (Zakiah Nurmala), serta Nugie (Pak Balia).
Telkomsel pada kesempatan ini menyerahkan ensiklopedi telekomunikasi kepada sejumlah SMP dan SMA di Kabupaten Belitung. Manager Service Management Telkomsel, Wardjito menyerahkan langsung bantuan kepada para kepala sekolah penerima bantuan. “Mudah-mudahan bermanfaat,” harap Helmi Wahidi, GM Customer Retention Management dalam sambutannya.
Film Sang Pemimpi diputar di Billiton Hotel & City Club pada pagi, siang, dan sore hari. Acara pemutaran film pada pagi dan sore hari mendapat dukungan penuh dari PT Timah Tbk. Suasana nonton bareng pada jadwal pagi semakin meriah dengan kehadiran komunitas sepeda onthel Belitung.
Pada acara nonton bareng ini, para pemain Sang Pemimpi dari Belitung juga menerima bantuan tabungan pendidikan dari PT Timah Tbk. Para pemain utama dari Belitung, yaitu Vikri Setiawan (Ikal), Rendy Ahmad (Arai), dan Aswir (Jimbron) menerima tabungan pendidikan senilai Rp 3 juta. Sedangkan pemain asal Belitung lainnya menerima tabungan pendidikan senilai Rp 2 juta. Penyerahan bantuan dilakukan oleh Ketua Umum Ikatan Karyawan Timah (IKT) M Wirtsa Firdaus.
“Kami sangat mendukung karya-karya spektakuler, habis-habisan. Mudah-mudahan bisa menjadi inspirasi untuk generasi Babel yang akan datang,” harap Wirtsa dalam sambutannya.
Pada kesempatan tersebut, Mira Lesmana juga menjawab pertanyaan tentang film Laskar Pelangi yang tidak diikutsertakan pada Festival Film Indonesia.
Mira menjelaskan, ia dan Riri serta sejumlah tokoh perfilman di Indonesia masih merasa sistem di negeri ini, termasuk FFI, belum begitu mengakomodir perfilman nasional Indonesia. Mira mengatakan sesudah ada perbaikan terhadap perfilman Indonesia maka ia dan rekan-rekannya akan kembali menyertakan film-film hasil karya mereka ke FFI.
Dalam jumpa fans tersebut, film Laskar Pelangi juga tidak luput dari sorotan. Salah satu undangan menyayangkan pemeran Bu Muslimah yang tidak menggunakan dialek Belitung, akan tetapi justru menggunakan dialek Malaysia. Menanggapi hal itu, Riri menyampaikan rasa terimakasih atas masukan dan kritik tersebut. (vid)
Di atas panggung, Avesiana Soebli dari Mizan Production menyatakan penonton film Sang Pemimpi selama 10 hari terakhir sudah tembus 1,2 juta orang. Pengumuman itupun disambut hangat para penonton yang bangga film berlatar belakang Belitung itu mampu menarik perhatian masyarakat. Avesiana dan Mira pun bergantian memperkenalkan para pendukung film Sang Pemimpi, termasuk penulis tetralogi Sang Pemimpi, Andrea Hirata, yang merupakan putra kelahiran Belitung.
Sebelumnya Gubernur Babel Eko Maulana Ali dalam sambutanya juga sempat menyatakan penghargaannya terhadap Andrea Hirata yang karya-karyanya telah andil melambungkan nama daerah.
Sambutan ribuan warga yang berjubel di Pantai Tanjungpendam semakin membuat hangat suasana hingga akhirnya film Sang Pemimpi mulai diputar.
Sebelumnya, pada saat acara Meet & Greet pemain Sang Pemimpi dan kru yang digelar Telkomsel di Biliton Hotel & City Club, Senin (28/12), sutradara Riri Reza menegaskan komitmen untuk mengangkat Edensor, salah satu novel dari tetralogi Laskar Pelangi, ke layar lebar setelah sukses Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi.
Penggarapan syuting film Edensor rencananya akan mengambil lokasi lebih banyak di Eropa. Hanya saja, persiapan pembuatan Endensor dipastikan memakan waktu lama mengingat sebagian syutingnya bakal dilakukan di Eropa.
“Film Edensor akan banyak syuting di Eropa, tetapi sebagian tetap akan syuting di Belitung,” kata sutradara film Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi itu saat menjawab pertanyaan dari salah satu undangan dalam acara ini.
Acara tersebut antara lain juga dihadiri Mira Lesmana dari Miles Production, Avesina Soebli dari Mizan Production, co produser Putut Wijanarko, penulis novel Sang Pemimpi Andrea Hirata, Vikri Setiawan (Ikal), Aswir (Jimbron), Sandi Pranada (Arai kecil), Zulfani (Ikal kecil), Mathias Muchus (ayah Ikal), Jay Wijayanto (Bang Zaitun), Landung Sumatupang (Pak Mustar), Maudi Ayunda (Zakiah Nurmala), serta Nugie (Pak Balia).
Telkomsel pada kesempatan ini menyerahkan ensiklopedi telekomunikasi kepada sejumlah SMP dan SMA di Kabupaten Belitung. Manager Service Management Telkomsel, Wardjito menyerahkan langsung bantuan kepada para kepala sekolah penerima bantuan. “Mudah-mudahan bermanfaat,” harap Helmi Wahidi, GM Customer Retention Management dalam sambutannya.
Film Sang Pemimpi diputar di Billiton Hotel & City Club pada pagi, siang, dan sore hari. Acara pemutaran film pada pagi dan sore hari mendapat dukungan penuh dari PT Timah Tbk. Suasana nonton bareng pada jadwal pagi semakin meriah dengan kehadiran komunitas sepeda onthel Belitung.
Pada acara nonton bareng ini, para pemain Sang Pemimpi dari Belitung juga menerima bantuan tabungan pendidikan dari PT Timah Tbk. Para pemain utama dari Belitung, yaitu Vikri Setiawan (Ikal), Rendy Ahmad (Arai), dan Aswir (Jimbron) menerima tabungan pendidikan senilai Rp 3 juta. Sedangkan pemain asal Belitung lainnya menerima tabungan pendidikan senilai Rp 2 juta. Penyerahan bantuan dilakukan oleh Ketua Umum Ikatan Karyawan Timah (IKT) M Wirtsa Firdaus.
“Kami sangat mendukung karya-karya spektakuler, habis-habisan. Mudah-mudahan bisa menjadi inspirasi untuk generasi Babel yang akan datang,” harap Wirtsa dalam sambutannya.
Pada kesempatan tersebut, Mira Lesmana juga menjawab pertanyaan tentang film Laskar Pelangi yang tidak diikutsertakan pada Festival Film Indonesia.
Mira menjelaskan, ia dan Riri serta sejumlah tokoh perfilman di Indonesia masih merasa sistem di negeri ini, termasuk FFI, belum begitu mengakomodir perfilman nasional Indonesia. Mira mengatakan sesudah ada perbaikan terhadap perfilman Indonesia maka ia dan rekan-rekannya akan kembali menyertakan film-film hasil karya mereka ke FFI.
Dalam jumpa fans tersebut, film Laskar Pelangi juga tidak luput dari sorotan. Salah satu undangan menyayangkan pemeran Bu Muslimah yang tidak menggunakan dialek Belitung, akan tetapi justru menggunakan dialek Malaysia. Menanggapi hal itu, Riri menyampaikan rasa terimakasih atas masukan dan kritik tersebut. (vid)
dibaca: 281x
0 Komentar untuk " Macet Satu Kilometer "
Komentar Anda:


