Etalase
Festival Calamoa 2010
Representasi Sebuah Keharmonisan
KAWASAN wisata Pantai Tanjungpendam akan kembali semarak dengan kegiatan Festival Calamoa 2010, 19 hingga 21 Februari mendatang. Acara ini menurut rencana akan dibuka oleh Gubernur Provinsi Kepulauan Bangka Belitung H Eko Maulana Ali.
Mengangkat tema Pelangi Tanpa Awan, festival ini akan berisi sejumlah kegiatan, mulai kompetisi barongsai tingkat nasional yang memperebutkan piala gubernur, kecapi, wushu sampai atraksi kungfu yang memikat yang didatangkan langsung dari negeri China.
Steering Comittee Festival Calamoa 2010, Isyak Meirobie mengatakan, kompetisi barongsai melombakan tiga kelas, yaitu kelas lantai (bermain barongsai di lantai), kelas semi lantai (bermain barongsai dengan media susunan kursi dan meja) dan kelas pekingsai (fashionable).
Menurut Isyak, sebenarnya ada satu kelas yang layak untuk dilombakan, yaitu kelas tonggak (bermain barongsai diatas tonggak). Tapi karena karena memperhitungkan faktor angin, maka kelas tonggak hanya dijadikan sebagai eksibisi.
Masing-masing kelas kompetisi barongsai ini akan memperebutkan juara pertama hingga ketiga. Juara pertama akan meraih hadiah sebesar Rp 10 juta, juara kedua Rp 7,5 juta dan juara ketiga Rp 5 juta. Sedangkan pialanya, akan terbuat dari timah murni.
Kegiatan lainnya adalah perayaan Imlek bersama. Isyak mengatakan, pihaknya ingin menjadikan perayaaan ini tidak hanya milik masyarakat Tionghoa, melainkan juga sebagai milik semua orang. Oleh sebab itu digelar di Tanjungpendam secara terbuka agar kalangan umum bisa hadir.
Pada Festival Calamoa 2010 ini, masyarakat juga bisa menyaksikan penampilan atraksi kungfu dan wushu. Atraksi Kungfu didatangkan langsung dari dari negerinya langsung yaitu Cina, sedangkan atraksi wushu dari lokal.
Tak hanya itu, kesenian daerah Belitung seperti beripat beregong, kuda lumping, barong bali, serta lesung panjang juga akan ditampilkan. Satu lagi atraksi menarik yang akan ditampilkan adalah konser kecapi kelas internasional. Atraksi ini akan ditampilkan pada malam pembukaan, dengan mendatangkan pemegang gelar master kecapi.
Konser kecapi ini akan membawakan sekitar 20 lagu, terdiri dari lagu dangdut, lagu mandarin dan lagu nasional. “Ini menarik. Kalo nggak datang kita rugi. Karena biasanya dia tampil di depan presiden,” kata Isyak ditemui Grup Bangka Pos di Radio Musica, Rabu (3/2).
Di dalam pulau itu, lanjut Isyak, terdapat makam seorang tokoh Suku Sawang, makam seorang penyebar agama Islam pertama di Tanjungpandan dan Kelenteng Naga Laut. Biasanya orang yang bergerak di bisnis pelayaran dan orang Tionghoa tiap tahun sembahyang ke sana. “Bayangkan saja di satu pulau kecil, bisa berisi tiga ‘kekuatan’. Hal yang berbeda, namun bisa harmonis,” kata Isyak. (vid/h4)
CALAMOA, kelamoa atau kelemuak? Mana yang benar? Banyak versi penulisan pulau kecil yang terletak di seberang pantai Tanjungpendam ini. Tetapi yang pasti, artinya tetap sama yaitu merujuk pada pulau kecil tersebut.
Menurut Isyak Meirobie, dalam bahasa Belitung namanya Pulau Kalamoa. Kala artinya muara air, tempat pertemuan sungai dan laut. Sedangkan Moa adalah makam. Jadi arti Kalamoa adalah makam di atas pertemuan sebuah sungai di atas laut. “Tapi tulisannya banyak versi. Ada Kalamoa, ada Calamoa. Calamoa lebih kepada versi internasionalnya,” kata Isyak.
Tentang luas pulau tersebut, kata Isyak, sudah pernah ditanyakan ke Badan Pertanahan Nasional (BPN). Namun, menurut Isyak, BPN ternyata belum pernah mengukur luas pulau tersebut. Isyak sendiri memperkirakan luas lahannya tidak sampai satu hektar.
Pemerhati sejarah dan budaya Belitung Salim YAH menjelaskan, dalam bahasa Belitung pulau tersebut disebut Pulau Kelemuak. Berasal dari kata kale atau kuale atau kuala yang artinya muara. Sedangkan moa itu nama orang Suku Sawang yang dimakamkan di pulau tersebut.
Salim mengatakan ada juga yang menyebut atau menulis pulau ini sebagai Kalamoa, ada juga Calamoa. “Dalam beberapa buku berbahasa Belanda disebut Kalamoa. Pulau ini berada di muara Sungai Cerucuk,” kata Salim kepada harian ini Sabtu (6/2).
Biasanya di pulau ini, selain digunakan untuk tempat sembahyang bagi masyarakat Tionghoa juga sebagai tempat untuk orang yang membayar nazar. Misalnya dengan melepas ayam.
Mengenai sejarah orang suku Sawang yang bernama Moa tersebut bisa dimakamkan di pulau kecil tersebut, Salim kurang mengetahuinya secara jelas. Akan tetapi biasanya orang-orang Suku Sawang memang tinggal di muara-muara.
Sementara tentang adanya makam penyebar agama Islam di pulau tersebut, Salim belum mengetahuinya secara jelas. Namun menurut informasi yang didapatnya, memang ada makam lain selain makam suku Sawang tepatnya di sebelah kanan. Tapi apakah ini makam penyebar Islam? belum dapat dipastikan.
Informasi lain yang didapatkan Salim, adalah bahwa pada zaman Belanda Pulau Kalamoa adalah untuk tempat pengasingan orang-orang yang menderita penyakit kusta. Karena penyakit kusta dianggap penyakit kutukan, sehingga penderitanya harus diasingkan. Namun hingga kini belum ada bukti pasti, data-data tentang ini pun sedang dicari.
Tentang rencana pembangunan pagoda, Salim mengatakan telah mengetahuinya. Bahkan bersama Gubernur Babel, Isyak Meirobie dan sejumlah orang lainnya, Salim sudah pernah meninjau lokasi ini pada bulan Januari 2010 lalu. (vid/h4)
Steering Comittee Festival Calamoa 2010, Isyak Meirobie mengatakan, kompetisi barongsai melombakan tiga kelas, yaitu kelas lantai (bermain barongsai di lantai), kelas semi lantai (bermain barongsai dengan media susunan kursi dan meja) dan kelas pekingsai (fashionable).
Menurut Isyak, sebenarnya ada satu kelas yang layak untuk dilombakan, yaitu kelas tonggak (bermain barongsai diatas tonggak). Tapi karena karena memperhitungkan faktor angin, maka kelas tonggak hanya dijadikan sebagai eksibisi.
Masing-masing kelas kompetisi barongsai ini akan memperebutkan juara pertama hingga ketiga. Juara pertama akan meraih hadiah sebesar Rp 10 juta, juara kedua Rp 7,5 juta dan juara ketiga Rp 5 juta. Sedangkan pialanya, akan terbuat dari timah murni.
Kegiatan lainnya adalah perayaan Imlek bersama. Isyak mengatakan, pihaknya ingin menjadikan perayaaan ini tidak hanya milik masyarakat Tionghoa, melainkan juga sebagai milik semua orang. Oleh sebab itu digelar di Tanjungpendam secara terbuka agar kalangan umum bisa hadir.
Pada Festival Calamoa 2010 ini, masyarakat juga bisa menyaksikan penampilan atraksi kungfu dan wushu. Atraksi Kungfu didatangkan langsung dari dari negerinya langsung yaitu Cina, sedangkan atraksi wushu dari lokal.
Tak hanya itu, kesenian daerah Belitung seperti beripat beregong, kuda lumping, barong bali, serta lesung panjang juga akan ditampilkan. Satu lagi atraksi menarik yang akan ditampilkan adalah konser kecapi kelas internasional. Atraksi ini akan ditampilkan pada malam pembukaan, dengan mendatangkan pemegang gelar master kecapi.
Konser kecapi ini akan membawakan sekitar 20 lagu, terdiri dari lagu dangdut, lagu mandarin dan lagu nasional. “Ini menarik. Kalo nggak datang kita rugi. Karena biasanya dia tampil di depan presiden,” kata Isyak ditemui Grup Bangka Pos di Radio Musica, Rabu (3/2).
Keharmonisan
Isyak mengemukakan festival yang bertemakan ‘Pelangi Tanpa Awan’ ini digelar dengan konsep semangat untuk merevitalisasi Pulau Calamoa. Isyak berpendapat Pulau Calamoa merupakan representasi sebuah pulau yang berisikan keharmonisan antar suku, agama dan ras di Pulau Belitung.Di dalam pulau itu, lanjut Isyak, terdapat makam seorang tokoh Suku Sawang, makam seorang penyebar agama Islam pertama di Tanjungpandan dan Kelenteng Naga Laut. Biasanya orang yang bergerak di bisnis pelayaran dan orang Tionghoa tiap tahun sembahyang ke sana. “Bayangkan saja di satu pulau kecil, bisa berisi tiga ‘kekuatan’. Hal yang berbeda, namun bisa harmonis,” kata Isyak. (vid/h4)
Calamoa Berbagai Versi
CALAMOA, kelamoa atau kelemuak? Mana yang benar? Banyak versi penulisan pulau kecil yang terletak di seberang pantai Tanjungpendam ini. Tetapi yang pasti, artinya tetap sama yaitu merujuk pada pulau kecil tersebut.
Menurut Isyak Meirobie, dalam bahasa Belitung namanya Pulau Kalamoa. Kala artinya muara air, tempat pertemuan sungai dan laut. Sedangkan Moa adalah makam. Jadi arti Kalamoa adalah makam di atas pertemuan sebuah sungai di atas laut. “Tapi tulisannya banyak versi. Ada Kalamoa, ada Calamoa. Calamoa lebih kepada versi internasionalnya,” kata Isyak.
Tentang luas pulau tersebut, kata Isyak, sudah pernah ditanyakan ke Badan Pertanahan Nasional (BPN). Namun, menurut Isyak, BPN ternyata belum pernah mengukur luas pulau tersebut. Isyak sendiri memperkirakan luas lahannya tidak sampai satu hektar.
Pemerhati sejarah dan budaya Belitung Salim YAH menjelaskan, dalam bahasa Belitung pulau tersebut disebut Pulau Kelemuak. Berasal dari kata kale atau kuale atau kuala yang artinya muara. Sedangkan moa itu nama orang Suku Sawang yang dimakamkan di pulau tersebut.
Salim mengatakan ada juga yang menyebut atau menulis pulau ini sebagai Kalamoa, ada juga Calamoa. “Dalam beberapa buku berbahasa Belanda disebut Kalamoa. Pulau ini berada di muara Sungai Cerucuk,” kata Salim kepada harian ini Sabtu (6/2).
Biasanya di pulau ini, selain digunakan untuk tempat sembahyang bagi masyarakat Tionghoa juga sebagai tempat untuk orang yang membayar nazar. Misalnya dengan melepas ayam.
Mengenai sejarah orang suku Sawang yang bernama Moa tersebut bisa dimakamkan di pulau kecil tersebut, Salim kurang mengetahuinya secara jelas. Akan tetapi biasanya orang-orang Suku Sawang memang tinggal di muara-muara.
Sementara tentang adanya makam penyebar agama Islam di pulau tersebut, Salim belum mengetahuinya secara jelas. Namun menurut informasi yang didapatnya, memang ada makam lain selain makam suku Sawang tepatnya di sebelah kanan. Tapi apakah ini makam penyebar Islam? belum dapat dipastikan.
Informasi lain yang didapatkan Salim, adalah bahwa pada zaman Belanda Pulau Kalamoa adalah untuk tempat pengasingan orang-orang yang menderita penyakit kusta. Karena penyakit kusta dianggap penyakit kutukan, sehingga penderitanya harus diasingkan. Namun hingga kini belum ada bukti pasti, data-data tentang ini pun sedang dicari.
Tentang rencana pembangunan pagoda, Salim mengatakan telah mengetahuinya. Bahkan bersama Gubernur Babel, Isyak Meirobie dan sejumlah orang lainnya, Salim sudah pernah meninjau lokasi ini pada bulan Januari 2010 lalu. (vid/h4)
Pagoda Tujuh Tingkat
REVITALISASI Pulau Calamoa. Inilah salah satu tujuan Yayasan Cinta Belitong menyelenggarakan kegiatan festival calamoa. Revitalisasi untuk menjadikan pulau kecil ini sebagai tempat wisata religi. Menurut rencana, revitalisasi akan dimulai di beberapa tempat umum.
“Revitalisasi itu memperbaiki yang sudah ada, dan juga menambah yang belum ada,” kata Isyak seraya menambahkan yang akan ditambah di pulau tersebut adalah gazebo, toko souvenir, kantin untuk tempat makan, toilet, juga tempat untuk berjalan kaki.
Bekas mercusuar yang terdapat di pulau itu juga akan dipugar. Sedangkan makam suku Sawang yang sudah cukup bagus akan dipertahankan. Makam penyebar agama Islam di Tanjungpandan juga akan dipugar lagi. Beberapa tempat untuk berjalan kaki juga akan dibangun, dibuatkan pagar. Gerbangnya juga akan diperbaiki menjadi lebih bagus sehingga menjadi layak untuk dikunjungi.
Satu lagi, Yayasan Cinta Belitong juga akan mencari dana untuk membangun pagoda tujuh tingkat. Namun belum diketahui persisnya seperti apa bentuk pagoda ini. Yang jelas pagoda ini sedang dalam tahap desain. Nantinya pagoda akan diberi lampu agar terlihat jelas dari Tanjungpendam
Pagoda akan dibangun dengan menghadap ke Tanjungpendam. Bangunan pagoda akan dibuat dari semen sehingga tidak bahaya dan tahan rayap. Menurut Isyak, jika IMB pagoda tersebut telah keluar dan dananya tersedia, maka proses pembangunan akan dimulai. “Jadi itu (pagoda) nanti akan jadi ikon,” kata Isyak.
Isyak menambahkan, pihaknya akan mencari dana untuk kepentingan pembangunan pagoda. Jika pemerintah bermaksud membantu, lanjut Isyak, maka pihaknya akan terbuka.
Isyak menjelaskan, pencanangan revitalisasi Pulau Calamoa tersebut merupakan kegiatan yang berbeda. Namun karena kebetulan kegiatannya diselenggarakan oleh yayasan yang sama yaitu Yayasan Cinta Belitong, maka dimasukkan dalam rangkaian tersebut.
Pada akhirnya nanti, pulau kecil ini diharapkan bisa dikunjungi masyarakat. Sebab itu pula direncanakan dibangun fasilitas umum, termasuk dermga.
“Dengan bayar Rp 10.000 saja, masyarakat akan bisa berjalan-jalan ke pulau itu,” kata Isyak seraya menambahkan dengan Pulau Calamoa berarti bertambah satu lagi tempat tujuan wisata di Kabupaten Belitung. (vid/h4)
“Revitalisasi itu memperbaiki yang sudah ada, dan juga menambah yang belum ada,” kata Isyak seraya menambahkan yang akan ditambah di pulau tersebut adalah gazebo, toko souvenir, kantin untuk tempat makan, toilet, juga tempat untuk berjalan kaki.
Bekas mercusuar yang terdapat di pulau itu juga akan dipugar. Sedangkan makam suku Sawang yang sudah cukup bagus akan dipertahankan. Makam penyebar agama Islam di Tanjungpandan juga akan dipugar lagi. Beberapa tempat untuk berjalan kaki juga akan dibangun, dibuatkan pagar. Gerbangnya juga akan diperbaiki menjadi lebih bagus sehingga menjadi layak untuk dikunjungi.
Satu lagi, Yayasan Cinta Belitong juga akan mencari dana untuk membangun pagoda tujuh tingkat. Namun belum diketahui persisnya seperti apa bentuk pagoda ini. Yang jelas pagoda ini sedang dalam tahap desain. Nantinya pagoda akan diberi lampu agar terlihat jelas dari Tanjungpendam
Pagoda akan dibangun dengan menghadap ke Tanjungpendam. Bangunan pagoda akan dibuat dari semen sehingga tidak bahaya dan tahan rayap. Menurut Isyak, jika IMB pagoda tersebut telah keluar dan dananya tersedia, maka proses pembangunan akan dimulai. “Jadi itu (pagoda) nanti akan jadi ikon,” kata Isyak.
Isyak menambahkan, pihaknya akan mencari dana untuk kepentingan pembangunan pagoda. Jika pemerintah bermaksud membantu, lanjut Isyak, maka pihaknya akan terbuka.
Isyak menjelaskan, pencanangan revitalisasi Pulau Calamoa tersebut merupakan kegiatan yang berbeda. Namun karena kebetulan kegiatannya diselenggarakan oleh yayasan yang sama yaitu Yayasan Cinta Belitong, maka dimasukkan dalam rangkaian tersebut.
Pada akhirnya nanti, pulau kecil ini diharapkan bisa dikunjungi masyarakat. Sebab itu pula direncanakan dibangun fasilitas umum, termasuk dermga.
“Dengan bayar Rp 10.000 saja, masyarakat akan bisa berjalan-jalan ke pulau itu,” kata Isyak seraya menambahkan dengan Pulau Calamoa berarti bertambah satu lagi tempat tujuan wisata di Kabupaten Belitung. (vid/h4)
dibaca: 99x
0 Komentar untuk "Representasi Sebuah Keharmonisan"
Komentar Anda:


